![]() |
| ilustrasi kereta |
Sebenernya disini gue mau cerita kisah kemaren gue interview
disalah satu tata usaha ekonomi yang berazazkan kekeluargaan, singkatnya KOPERASI.
Niatnya gue mau ganti temen gue yang resign
dari koperasi itu. Emmm, tahapan interview dikoperasi itu banyak banget.
Tahapan pertama gue harus ngisi form yang terdiri dari beberapa bagian, form
lamaran, form uji psikologis keagamaan dan form psikotes. Abis dari form gue
harus test komputer, bikin surat sama rekap surat. Dan selanjutnya interview
tahapan terakhir, gue harus betatapan dengan 3 personalia HRD secara
bergantian. Untuk tatapan interview 1 dan 3 gue lancar, tapi yang kedua hal itu
masih kepikiran sama gue sampai sekarang.
Saat gue masuk kedalam suatu ruangan, gue ketemu sama
sesosok lelaki paruh baya kulit lumayan hitam dengan kacamata turun ke bawah
dan tatapan mata yang melengking menatap laptop dimejanya. Dia ngingetin gue
sama guru killer Bahasa Inggris gue waktu SMP
“silakan duduk mbak, emm yessie yah” katanya dengan suara
extra lelaki macam personal trainer motivation, bukan cempreng macam pengamen
dengan bulu mata anti badai.
“iyah pak..” Gue lanjutin pake senyum dan gak berani duduk.
“silahkan duduk mbak”
“mau ngelamar sebagai apa disini?”
“yang dibutuhkan perusahaan pak, dan sesuai dengan kemampuan
saya”
“emm, disini saya cuma mau kasih gambaran saja” sambil
nyodorin kertas
Dia gambar garis-garis lonjong, dan gue gak bisa nerka gambar
dia itu gambar apa. Dalam pikiran gue itu bukan gambar ulet yang nempel didaun
kan ?
“ibaratkan ini adalah kereta dan Anda sebagai masinisnya”
Dalam hati gue ngomong, oh itu kereta gue kira ulet.
“jalur yang harus Anda lalui adalah lurus, tapi saat itu ada
5 orang yg sedang berasa disana. Dan ada persimpangan rel sebelahnya ada 1 anak
kecil sedang bermain. Anda pilih jalan yang mana?”
Sejenak gue berfikir, ngapain banyak 5 orang ngumpul-ngumpul
di rel kereta ? Ah mungkin mereka sedang terapi rel kereta.
“emmm, saya mau bunyi’in
klakson kereta pak biar mereka menghindar”
“saya hanya meminta Anda untuk lurus atau belok, bukan untuk
membunyikan klakson” Si bapak ngeles
“lurus pak kan itu jalurnya”
“Anda yakin? Dengan segala resikonya dan harus mengorbankan
banyak jiwa?”
“yakin pak, itu jalurnya lurus, kalo belok nanti nyasar”
Dalam hati gue, kasian juga 5 orang mati penjaranya berat
gak yah ? gak tega.
“saya tambahkan 1 orang lagi jadi 6 orang” katanya coba
menguji gue
“makin banyak, emmmmmm…..” gue mulai binggung.
Soalnya gue mikir pake hati, kasian banget yah 6 orang
meninggal nanti gimana keluarganya yang ditinngalkan pasti sedih. Nanti gue
kayak Neng April lagi.
“belok aja pak saya gak tega sama keluarga 6 orang itu”
Si Bapak cuma ngerutin alis dengan mendengar jawaban gue.
Dan interviewnya hanya itu saja, tapi pertanyaan itu malah
jadi bikin gue galau. Hati gue bilang seharusnya lurus tapi gue malah belok
untuk lebih mudah lewat. Dari pertanyaan menjebak itu gue berfikir, sebagai
umat beragama dalam mencari rejeki tetap lah harus dengan cara halal ( jalan
yang lurus) walau banyak rintangan yang ada (6 orang di rel kereta), bukan
mencari jalan yang lebih mudah dan tidak pada jalannya (jalan rel yang ke 2).
Akhirnya gue pasrah dengan hasil interview gue, tapi gue gak mau putus asa
untuk ngelamar-ngelamar lagi. CEMUNGUDDHHH
:D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar