Rancangan

Minggu, 25 Maret 2012

Belok atau lurus

ilustrasi kereta
Untuk menjadi seonggok lebih tepatnya seorang pegawai disuatu perusahaan pasti membutuhkan proses yang disebut lamaran. Setelah lamaran lalu interview kalo beruntung ya diterima kalo buntung ya mohon maaf ditolak. Proses lamaran kerja sama kayak nyari ‘jodoh’ susah susah gampang, simplenya waktu lo cari jodoh lo butuh seseorang yang menjadi target jodoh mirip sama perusahaan yang lu tuju. Terus proses lamaran jodoh lu sama kayak lu lamaran kerja butuh persiapan. Didua kasus ini CV sama-sama dipergunakan, dilamaran jodoh istilah itu jadi ‘babat,bibit,bobot’ soto kali dibabat, well kalo dilamaran kerja ya gak jauh lah tapi secara tertulis. Lalu yang terakhir adalah interview, tahap yang paling menentukan dan paling deg-deg-degan. Singkatnya kalo dilamaran nikah interview itu nanya sama orang tua pihak yang dilamar setuju atau tidak dan proses lamaran serta interview itu dilakukan sekaligus. Beda sama ngelamar kerja, dilihat lamarannya menarik atau tidak baru diinterview. Ya tahap selanjutnya bergantung dewi fortuna (baca : untuk tuna) hehehe… faktor keberuntungan dan rejeki kita, KITA lo aja kali gue enggak !
Sebenernya disini gue mau cerita kisah kemaren gue interview disalah satu tata usaha ekonomi yang berazazkan kekeluargaan, singkatnya KOPERASI. Niatnya gue mau ganti temen gue yang resign dari koperasi itu. Emmm, tahapan interview dikoperasi itu banyak banget. Tahapan pertama gue harus ngisi form yang terdiri dari beberapa bagian, form lamaran, form uji psikologis keagamaan dan form psikotes. Abis dari form gue harus test komputer, bikin surat sama rekap surat. Dan selanjutnya interview tahapan terakhir, gue harus betatapan dengan 3 personalia HRD secara bergantian. Untuk tatapan interview 1 dan 3 gue lancar, tapi yang kedua hal itu masih kepikiran sama gue sampai sekarang.
Saat gue masuk kedalam suatu ruangan, gue ketemu sama sesosok lelaki paruh baya kulit lumayan hitam dengan kacamata turun ke bawah dan tatapan mata yang melengking menatap laptop dimejanya. Dia ngingetin gue sama guru killer Bahasa Inggris gue waktu SMP
“silakan duduk mbak, emm yessie yah” katanya dengan suara extra lelaki macam personal trainer motivation, bukan cempreng macam pengamen dengan bulu mata anti badai.
“iyah pak..” Gue lanjutin pake senyum dan gak berani duduk.
“silahkan duduk mbak”
“mau ngelamar sebagai apa disini?”
“yang dibutuhkan perusahaan pak, dan sesuai dengan kemampuan saya”
“emm, disini saya cuma mau kasih gambaran saja” sambil nyodorin kertas
Dia gambar garis-garis lonjong, dan gue gak bisa nerka gambar dia itu gambar apa. Dalam pikiran gue itu bukan gambar ulet yang nempel didaun kan ?
“ibaratkan ini adalah kereta dan Anda sebagai masinisnya”
Dalam hati gue ngomong, oh itu kereta gue kira ulet.
“jalur yang harus Anda lalui adalah lurus, tapi saat itu ada 5 orang yg sedang berasa disana. Dan ada persimpangan rel sebelahnya ada 1 anak kecil sedang bermain. Anda pilih jalan yang mana?”
Sejenak gue berfikir, ngapain banyak 5 orang ngumpul-ngumpul di rel kereta ? Ah mungkin mereka sedang terapi rel kereta.
“emmm, saya mau bunyi’in klakson kereta pak biar mereka menghindar”
“saya hanya meminta Anda untuk lurus atau belok, bukan untuk membunyikan klakson” Si bapak ngeles
“lurus pak kan itu jalurnya”
“Anda yakin? Dengan segala resikonya dan harus mengorbankan banyak jiwa?”
“yakin pak, itu jalurnya lurus, kalo belok nanti nyasar”
Dalam hati gue, kasian juga 5 orang mati penjaranya berat gak yah ? gak tega.
“saya tambahkan 1 orang lagi jadi 6 orang” katanya coba menguji gue
“makin banyak, emmmmmm…..” gue mulai binggung.
Soalnya gue mikir pake hati, kasian banget yah 6 orang meninggal nanti gimana keluarganya yang ditinngalkan pasti sedih. Nanti gue kayak Neng April lagi.
“belok aja pak saya gak tega sama keluarga 6 orang itu”
Si Bapak cuma ngerutin alis dengan mendengar jawaban gue.
Dan interviewnya hanya itu saja, tapi pertanyaan itu malah jadi bikin gue galau. Hati gue bilang seharusnya lurus tapi gue malah belok untuk lebih mudah lewat. Dari pertanyaan menjebak itu gue berfikir, sebagai umat beragama dalam mencari rejeki tetap lah harus dengan cara halal ( jalan yang lurus) walau banyak rintangan yang ada (6 orang di rel kereta), bukan mencari jalan yang lebih mudah dan tidak pada jalannya (jalan rel yang ke 2). Akhirnya gue pasrah dengan hasil interview gue, tapi gue gak mau putus asa untuk ngelamar-ngelamar lagi. CEMUNGUDDHHH  :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar